Selasa, 20 Desember 2016

Makalah Pengertian asesmen dan Tujuan Asesmen




MAKALAH
PENGERTIAN ASSESMEN, TUJUAN ASSESMEN

Diajukan Dan Disusun Guna Memenuhi
Tugas Mata Kuliah Assesmen AUD I

Dosen Pengampu : Edy Yudiarto, M.Pd

IKIP VET.jpg








Disusun Oleh :

Nama
:



:


Semester
:


Pokjar
:





INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ( IKIP )
VETERAN SEMARANG
2016

KATA PENGANTAR
 
Segala  puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunianya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Pengertian Assesmen dan Tujuan Assesmen  ini dengan baik.
Kami  menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan yang terdapat pada Makalah  ini sebagai akibat dari keterbatasan dari pengetahuan kami. Sehubungan dengan hal tersebut,kami  akan selalu membuka diri untuk menerima segala kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak. Semoga Makalah ini bermanfaat bagi kita semua.


Pemalang, 25 November 2016

Penulis









DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..............................................................................        i
KATA PENGANTAR............................................................................        ii
DAFTAR ISI..........................................................................................        iii
BAB I PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang............................................................................        1
B.       Rumusan Masalah........................................................................        2
C.       Tujuan..........................................................................................        3

BAB II PEMBAHASAN
A.      Pengertian....................................................................................        3
B.       Sejarah Asesmen..........................................................................        5
C.       Tujuan Asesmen..........................................................................        7
D.      Prinsip-prinsip Asesmen..............................................................        11
E.       Asesmen  Autentik (Asesmen Kinerja).......................................        14
F.        Asesmen Portofolio.....................................................................        18

BAB III PENUTUP
A.      Kesimpulan..................................................................................        26
B.       Saran............................................................................................        27

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................        28


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Dewasa ini istilah asesmen banyak digunakan dalam kegiatan evaluasi, terutama setelah diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum ini memiliki karakteristik tertentu baik dalam perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, maupun evaluasi pembelajaran.
Dengan diberlakukannya Kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi), membawa implikasi terhadap model pendekatan pembelajaran dan teknik penilaian. Penilaian terdiri atas penilaian eksternal dan penilaian internal. Penilaian eksternal merupakan penilaian yang dilakukan oleh pihak lain yang tidak melaksanakan proses pembelajaran dan dilakukan oleh suatu lembaga, dimaksudkan antara lain untuk pengendali mutu. Sedangkan penilaian internal adalah penilaian yang direncanakan dan dilakukan oleh guru pada saat proses belajar mengajar berlangsung untuk penjaminan mutu pembelajaran. Penilaian hasil belajar peserta didik dilakukan oleh guru untuk memantau proses, kemajuan, perkembangan hasil belajar peserta didik sesuai dengan potensi yang dimiliki dan kemampuan yang diharapkan secara berkesinambungan. Penilaian juga dapat memberikan umpan balik kepada guru agar dapat menyempurnakan perencanaan dan proses pembelajaran.
Dalam kegiatan evaluasi pembelajaran, kurikulum ini tidak hanya mempersyaratkan penggunaan tes formal seperti halnya yang baisa digunakan selama ini, melainkan juga evaluasi alternative yang dinamakan dengan asesmen portofolio (autentik) maupun asesmen kinerja (performance). Pemakalah ingin membahas bagaimana asesmen belajar beserta prosedur penerapannya dengan baik dan benar.
                                                                                                      
B.       Rumusan Masalah                                                    
1.         Apa pengertian asesmen ?
2.         Bagaimana sejarah asesmen ?
3.         Apa saja tujuan asesmen ?
4.         Bagaimana prinsip-prinsip asesmen ?
5.         Apa yang dimaksud dengan asesmen autentik (asesmen kinerja)?
6.         Apa yang dimaksud dengan asesmen portofolio ?

C.      Tujuan
1.         Menjelaskan konsep asesmen dalam pembelajaran.
2.         Menjelaskan sejarah asesmen.
3.         Menjelaskan tujuan asesmen.
4.         Menjelaskan prinsip-prinsip asesmen.
5.         Menjelaskan konsep asesmen kinerja beserta prosedur penerapannya.
6.         Menjelaskan konsep asesmen portofolio beserta prosedur penerapannya.





BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian
Asesmen merupakan proses mendokumentasi, melalui proses pengukuran, pengetahuan, keterampilan, sikap, dan keyakinan peserta didik. Dapat dinyatakan pula bahwa asesmen merupakan sistematik untuk memperoleh informasi tentang apa yang diketahui, dilakukan, dan dikerjakan oleh peserta didik. Berikut disajikan beberapa pengertian asesmen yang disampaikan oleh pakar asesmen pembelajaran:
a.         Khan, Hardas, dan Ma (2005) menyatakan bahwa asesmen merupakan proses mendokumentasikan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan keyakinan.
b.         NAEYC (1990) menyatakan bahwa asesmen merupakan proses pengamatan, pencatatan dan selanjutnya pendokumentasian pekerjaan yang dikerjakan peserta didik dan cara-cara peserta didik mengerjakannya, untuk dijadikan sebagai dasar dari berbagai pembuatan keputusan pendidikan yang mempengaruhi anak.
c.         Dodge dan Bickart (1994) menyatakan bahwa asesmen merupakan proses memperoleh informasi tentang anak untuk membuat keputusan tentang pendidikannya.
d.        Hills (1992) menyatakan bahwa asesmen terdiri atas tahap pengumpulan data tentang perkembangan dan belajar peserta didik, menentukan kebermaknaan tujuan program, memadukan informasi kedalam perencanaan program, dan mengkomunikasikan temuan kepada orang tua dan pihak-pihak yang berkepentingan.

Dari keempat pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa assasmen merupakan Metode dan alat asesmen meliputi: observasi, asesmen amndiri oleh pesertadidik, tugas praktek harian, contoh hasil pekerjaan peserta didik, tes tertulis, skala penilaian, proyek, laporan tertulis, review kinerja, dan asesmen portofolio. Kinerja peserta didik dinilai dari informasi yang dikumpulkan melalui kegiatan asesmen, pendidik menggunakan pemahamannya, pengetahuan tentang belajar, dan pengalaman peserta didik, kemudian membandingkannya dengan criteria yang telah dirumuskan dalam membuat penilaian mengenai kinerja peserta didik berkenaan dengan hasil belajaryang telah ditetapkan.
Evaluasi memiliki kesamaan dengan asesmen, asesmen biasanya berkaitan dengan prestasi belajar peserta didik. Dalam pemakaian yang lebih sempit, asesmen disamakan dengan ujian, sedangkan dalam pemakaian yang lebih luas, asesmen disamakan dengan evaluasi. Oleh karena itu evaluasi pendidikan biasanya meliputi asesmen hasil belajar peserta didik. Evaluasi memiliki tujuan untuk mengetahui sikap peserta didik, kesadaran karir, kepekaan budaya, praktek pembelajaran, kurikulum, personel sekolah, dan sebagainya.
Beberapa pratisi pendidikan ada yang menggunakan kedua istilah tersebut secara bergantian, namun ada pula yang memandang berbeda, yakni isi evaluasi dipandang lebih luas dibandingkan dengan asesmen karena evaluasi berkaitan dengan pembuatan keputusan tentang nilai atau harga dari suatu objek. Asesmen dipandang sebagai proses pengukuran terhadap suatu karakteristik tertentu, seperti deskripsi tujuan, sementara evaluasi dipandang sebagai proses pengukuran terhadap suatu karakteristik dan penentuan nilai atau harga suatu objek. Shepard (1994) membedakan antara istilah asesmen dengan tes, walaupun secara teknis keduanya memiliki makna yang sama. Dia menyatakan tes sebagai kegiatan pengukuran tradisional, pengukuran pra akademik dan perkembangan anak yang tidak standar, dan menggunakan istilah asesemen yang mengacu pada proses pengamatan dan penilaian anak yang sesuai dengan perkembangan anak.
Perbedaan lain berkaitan dengan objek yang dikaji. Asesmen biasanya berkaitan dengan peserta didik. Dalam pemakaian yan paling sempit, asesmen disamakan dengan ujian. Dalam pemakaian yang paling luas, asesmen digunakan secara bergantian dengan evaluasi. Evaluasi kegiatan pendidikan dapat menggunakan asesmen hasil belajarpeserta didik namun dalam skala yang lebih luas. Evaluasi dapat mencakup tujuan seperti sikap peserta didik, kesadaran karier peserta didik, kepekaan cultural, praktik mengajar, dan sebagainya.

B.       Sejarah Asesmen
Kegiatan asesmen muncul pertama kali di China pada tahun 206 sebelum masehi ketika dinasti Han memperkenalkan ujian untuk membantu proses seleksi pegawai kerajaan. Pada tahun 822 setelah masehi dinasti Tang melaksanakan ujian tertulis bagi calon pegawai kerajaan, ujian itu berlangsung selama beberapa hari dan yang lulus mencapai 2%, calon pegawai yang berhasil kemudian diberikan asesmen lisan oleh raja.
Di Eropa, ujian yang digunakan selama abad pertengahan digunakan untuk membantu seleksi calon pendeta dan kesatria, dan anak-anak sekolah di uji pengetahuan tentang katekismus. Universitas Paris pertama kali memperkenalkan ujian forma selama abad 12. Ujian itu adalah perselisihan tentang teologi. Pada tahun 1974an, Universitas Cambridge mulai menggunakan ujian lisan untuk membandingkan peserta didik, sama dengan ujian yang diselenggarakan oleh dinasti Han di China. Selama abad ke 18, Universitas Cambridgedan Oxford mulai menguji kemampuan matematika kepada peserta didiknya dengan menggunakan ujian tertulis kemudian menggunakan kertas untuk asesmen pada semua mata kuliah.
Amerika Serikat memperkenalkan ujian tertulis pada pada tahun 1830an dalam upaya mengurangi subjektivitas asesmen. Horace Mann memperkenalkan ujian tertulis di Boston Public School untuk membandingkan kinerja sekolah. Walaupun demikian, kontribusi utama Amerika Serikat dalam sejarah ujian itu dating selama perang dunia pertama ketika Angkatan Bersenjata Amerika Serikat memperkenalkan tes IQ berskala besar untuk mengangkat sejumlah besar calon prajurit yang akan menduduki jabatan di Angkatan Bersenjata. The Army Alpha, sebagaimana yang telah dikenal, merupakan pertanyaan pilihan ganda dan diterapkan pada dua juta calon prajurit.


C.      Tujuan Asesmen
Asesmen memiliki dua tujuan, yaitu tujuan isi dan tujuan proses (Herman, Aschbacher, and Winters, 1992). Asesmen yang berkaitan dengan tujuan isi digunakan untuk menentukan seberapa jauh peserta didik telah mempelajari pengetahuan dan keterampilan spesifik. Dalam hal ini asesmen harus terfokus pada hasil belajar peserta didik. Asesmen yang berkaitan dengan proses digunakan untuk mendiagnosis kekuatan dan kelemahan peserta didik serta merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi peserta didik.
Tujuan asesmen pembelajaran pada dasarnya tergantung pada penggunaan jenis-jenis asesmen. Ada empat jenis asesmen dalam pembelajaran, yaitu: (a) asesmen formatif dan sumatif; (b) asesmen objektif dan subjektif; (c) asesmen acuan normatif dan acuan patokan, dan (d) asesmen formal dan informal.
a.         Asesmen formatif dan sumatif
Asesmen sumatif biasanya dilaksanakan di akhir pembelajaran, dan digunakan untuk membuat keputusan tentang kenaikan kelas peserta didik. Asesmen formatif umumnya dilaksanakan selam proses pembelajaran berlangsung. Kegiatan asesmen formatif dapat berbentuk pemberian balikan atas pekerjaan peserta didik, dan tidak akan dijadikan sebagai dasar untuk kenaikan kelas peserta didik. Dalam konteks belajar, asesmen sumatif dan formatif disebut dengan asesmen belajar.
Salah satu bentuk asesmen formatif adalah asesmen diagnostic. Asesmen diagnostic mengukur pengetahuan dan keterampilan peserta didik untuk mengidentifikasi program belajar yang sesuai dengan kemampuan peserta didik. Asesmen mandiri oleh peserta didik merupakan bentuk asesmen diganostik yang melibatkan peserta didik mengakses dirinya sendiri.

b.        Asesmen objektif dan subjektif
Asesmen bentuk objektif merupakan bentuk pertanyaan yang memiliki satu jawaban yang benar.  Asesmen subjektif merupakan bentuk pertanyaan yang memiliki lebih dari satu jawaban yang benar (atau lebih dari satu cara mengungkapkan jawaban yang benar). Ada beberapa jenis pertanyaan berbentuk objektif dan subjektif. Jenis pertanyaan berbentuk objektif yaitu pertanyaan yang memiliki alternatif jawaban benar dan salah, pilihan ganda, pertanyaan menjodohkan, dan jawaban ganda. Pertanyaan subjektif yaitu pertanyaan yang membutuhkan jawaban luas dan ada yang berbentuk uraian.

c.         Asesmen acuan patokan dan acuan normatif
Asesmen acuan patokan, biasanya menggunakan tes acuan patokan, merupakan asesmen yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik berdasarkan criteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Asesmen acuan patokan membandingkan kemampuan peserta didik dengan criteria, atau asesmen yang memfokuskan diri pada kinerja individu yang diukur berdasarkan pada criteria atau standar absolute. Asesmen acuan patokan seringkali digunakan untuk mengukur kompetensi peserta didik.
Prosedur asesmen acuan patokan mencakup urutan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
§   Identifikasi hasil belajar yang diharapkan.
§   Rumuskan kriteria. Jika memungkinkan, libatkan peserta didik dalam merumuskan kriteria
§   Rencanakan kegiatan belajar yang membantu peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan.
§   Sebelum kegiatan belajar berlangsung, komunikasikan kriteria tersebut dan pekerjaan yang akan diakses.
§   Berikan contoh kinerja yang diinginkan.
§   Implementasikan kegiatan belajar.
§   Gunakan beberapa metode asesmen berdasarkan tugas yang diberikan.
§   Kaji kembali data asesmen dan evaluasi masing-masing tingkat kinerja peserta didik atau kualitas pekerjaan dengan menggunakan kriteria
§   Apabila diperlukan, berikan tanda huruf (misalnya A, B, C, D) yang menunjukkan pemenuhan hasil belajar peserta didik dan orangtua
§   Laporkan hasil asesmen kepada peserta didik dan orangtua

Asesmen acuan normatif, atau dikenal dengan penentuan rangking berdasarkan kurva norml, biasanya menggunakan tes acuan normatif, tidak digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan kata lain yaitu asesmen yang distandarkan pada sekelompok individu yang kinerjanya dinilai dalam hubungannya dengan kinerja individu lainnya. Asesmen ini sangat efektif untuk membandingkan kemampuan peserta didik satu dengan peserta didik lainnya. Asesmen untuk ujian masuk sekolah biasanya emnggunakan asesmen acuan normative, karena asesmen ini dapat menunjukkan proporsi jumlah calon peserta didik yang lulus datau diterima di sekolah atau di universitas , dan bukan menunjukkan tingkat kemampuan calon peserta didik yang sesungguhnya.

d.        Asesmen formal dan informal
Asesmen formal biasanya diwujudkan dalam bentuk dokumen tertulis, seperti tes tertulis. Asesmen formal diberikan skor dalam bentuk angka atau penentuan rangking berdasarkan pada kinerja peserta didik.
Asesmen informal tidak dimaksudkan untuk menentukan rangking akhir peserta didik. Asesmen ini biasanya dilakuan dengan cara yang lebih terbuka, seperti kegiatan asesmen yang dilaksanakan melalui observasi, inventori, partisipasi, evaluasi diri dan teman sebaya, dan diskusi.



D.      Prinsip-prinsip Asesmen
Asesmen yang baik harus berdasarkan pada landasan pendidikan. Landasan pendidikan ini meliputi pengorganisasian sekolah dalam memenuhi kebutuhan belajar seluruh peserta didik, memahami cara peserta didik belajar, menetapkan standar tinggi pada kegiatan belajar peserta didik dan memberikan kesempatan bealajar peserta didik yang memadai.
Ada tujuh prinsip dalam menerapkan asesmen belajar. Berikut disajikan ketujuh prinsip yang dimaksud :
a.         Tujuan utama asesmen adalah memperbaiki belajar peserta didik
Asesmen kelas maupun berskala besar, diorganisir dengan tujuan untuk memperbaiki belajar peserta didik. Asesmen ini memberikan informasi yang sangat bermanfaat mengenai apa yang telah dicapai oleh peserta didik terhadap tujuan belajar dan mengenai kemampuan belajar masing-masing peserta didik. Asesmen menggunakan metode yang konsisten dengan tujuan belajar, kurikulum, pembelajaran, dan pengetahuan mutakhir tentang peserta didik.

b.        Asesmen bertujuan untuk mendukung belajar peserta didik
Asesmen baik yang digunakan untuk  laporan kemajuan peserta didik, sertifikasi peserta didik, dan informasi untuk perbaikan dan akuntabilitas sekolah adalah dimaksudkan untuk mendukung belajar peserta didik. Pendidik dan sekolah membuat keputusan, seperti kenaikan kelas, kelulusan peserta didik adalah didasarkan pada informasi yang diperoleh secara terus menerus, bukan data yang diperoleh dari asesmen akhir semester. Demikian pula informasi yang digunakan untuk perbaikan dan akuntabilitas sekolah juga berasal dari data pekerjaan dan asesmen peserta didik yang diperoleh secara terus menerus.
Asesmen akuntabilitas menggunakan prosedur pengambilan sampel pekerjaan peserta didik. Asesmen ini mengembangkan standar teknis dan standar itu digunakan untuk memastikan agar asesmen yang diterapkan memiliki kualitas tinggi, serta digunakan untuk memantau konsekuensi pendidikan atas penggunaan asesmen tersebut.

c.         Objektif bagi semua peserta didik
Asesmen yang baik akan memberikan keyakinan bahwa semua peserta didik akan memperoleh perlakuan yang sama. Asesmen menggunakan berbagai metode dalam mengakses kemajuan peserta didik serat cara-cara peserta didik mengungkapkan pengetahuan dan pemahamannya terhadap mata pelajaran. Asesmen tidak akan melenceng dan mampu menggambarkan pengetahuan dan keterampilan aktual peserta didik.

d.        Kolaborasi professional
Pendidik yang memiliki sikap objektif adalah penting bagi persyaratan asesmen yang berkualitas. Pendidik menentukan dan berperan serta dalam pengembangan professional serta bekerjasama untuk memperbaiki system asesmen.  Kemampan professional iu diperkuat melalui sekelompok pendidik memberikan skor pekerjaan peserta didik. Sekolah, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Pusat perlu menyediakan sumberdaya yang diperlukan untuk pengembangan professional pendidik dalam menerapkan asesmen pembelajaran.

e.         Partisipasi Komite Sekolah dalam Pengembangan Asesmen
Pelaksanaan asesmen perlu melibatkan orangtua, anggota masyarakat, peserta didik, bersama-sama pendidik dan pakar yang memiliki keahlian tertentu, dalam pengembangan asesmen. Diskusi tujuan dan metode asesmen perlu melibatkan orang-orang yang peduli dengan pendidikan. Orangtua, peserta didik, anggota masyarakat memiliki latar belakang berbagai keahlian, pendidik dan tenaga kependidikan perlu melibatkan diri dalam membentuk sistem asesmen yang berkualitas.

f.          Keteraturan Dan Kejelasan Komunikasi Mengenai Asesmen
Pendidik, sekolah, pemerintah kabupaten/ kota, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat secara jelas dan teratur mendiskusikan praktik asesmen dan peserta didik serta kemajuan program dengan peserta didik , keluarga , dan masyarakat. Penddik dan sekolah mengkomunikasikan tujuan, metode, dan hasil asesmen. Pendidik dan sekolah melaporkan apa yang diketahui dan yang mampu dilakukan oleh peserta didik, apa yang perlu dipelajari oleh peserta didik, dana apa yang akan dilakukan oleh peserta didik untuk perbaikan perilaku pesertadidik.
Laporan tentang prestasi belajar peserta didik berkenaan dengan pencapaian tujuan belajar juga perlu dilaporkan. Contoh-contoh asesmen dan pekerjaan peserta didik perlu diperlihatkan kepada orang tua dan masyarakat agar mereka mnegetahui kinerja peserta didik. Hasil asesmen perlu dilaporkan bersama-sama dengan informasi tertentu yang erkaitan dengan program pendidikan, ketersediaan sumberdaya, dan prestasi sekolah lainnya.

g.         Peninjauan Kembali Dan Perbaikan Asesmen
Asesmen perlu dikaji kembali dan diperbaki untuk memastikan bahwa asesmen itu benar-benar memberikan manfaat bagi peserta didik. Tindakan ini harus dilakukan secara berkesinambungan. Meskipun asesmen itu telah dipandang memadai, namun perlu diperbaiki mengingat kondisi selalu berubah dan pengetahuan yang terjadi di masyarakat selalu meningkat.
Peninjauan kembali merupakan dasar bagi pembuatan keputusan dalam mengubah sebagian atau seluruh asesmen. Peninjauan kembali itu melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan ( Stakeholders) dalam system pendidikan. Analisis biaya manfaat (cost- benefit analysis) juga perlu dilakukan untuk mengetahui efek asesmen terhadap belajar.

E.       Asesmen  Autentik (Asesmen Kinerja)
Asesmen yang diterapkan di sekolah umumnya menggunakan  test formal. Implementasi ujan seperti ini banyak menimbulkan pertanyaan karena tidak mampu memberikan indikator terhadap  apa yang telah dipelajari oleh peserta didik, dan seringkali peserta didik membuat terkaan atas butir soal pilihan ganda, sehingga peserta didik tidak belajar berpartisipasi di dunia nyata. Pendekatan alternatif untuk menilai peserta didik dewasa ini lebih banyak melibatkan peserta didik di dalamproses evaluasi yang dipandang mampu meningkatkan minat dan motivasi belajar.
Test standar umumnya digunakan untuk memungkinkan sekolah untuk membuat standar yang jelas dan konsisten terhadap peserta didik. Test tersebut akhir-akhir ini digunakan untuk berbagai tujuan di luar evaluasi kelas.  Test tersebut digunakan untuk menempatkan peserta didik di kelas tertentu, membimbing peserta didik untuk membuat keputusan mengenai berbagai mata pelajaran, dan untuk akuntabilitas terhadap keefektivan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berdasarkan kinerja peserta didik.
Apabila tuntutan hasil test peserta didik harus tinggi, pendidik cenderung mengajarkan materi pembelajaran yang akan diujikan untuk memperbaiki kinerja peserta didik. Apabila suatu ujian dimaksudkan untuk menilai ketramplan yang diiinginkan dan untuk menggambarkan penguasaan materi pembelajaran, hal ini bukan menjadi masalah. Namun demikian, test standar umumnya menggunakan bentuk pertanyaan yang menggunakan jawaban pendek atau pilihan ganda karena memberikanpeluang pengolahan hasil valuasi lebih efisien. Teknik evaluasi seperti ini biasanya mengukur ketrampilan kognitif tingkat rendah, sementara itupeserta didik perlu menggunakan ketrampilan yang lebih kompleks ketika mereka berada di luar kelas.
Untuk mendorong peserta didik menggunakan keterampilan kognitif tngkat tinggi dan mengevaluasi peserta didik secara lebih komprehensif, ada beberapa assesmen alternatif yang dapat digunakan. Umumnya assesmen alternatif itu menggunakan teknik evaluasi non standar untuk menilai proses berpikir kompleks. Asesmen alternatif tersebut melput asesmen berbasis kinerja dan asesmen acuan patokan.
Asesmen berbasis kinerja ( performance based assesment) merupkan bentuk ujian dimana peserta didik menjawab suatu pertanyaan atau membuat produk atau mendemonsrasikan ketrampilan atau menampilkan kemampuan atau pengetahuan. Dapat juga dinyatakan bahwa assesmen berbasis kinerja merupakan assesmenyang mengaharuskan peserta didik membuat respon terhadap suatu persoalan. Penerapan asesman berbasis kinerja ini mempersyaratkan peserta didik secara aktif menyelesaikan tugas-tugas kompleks dengan menggunakan pengetahuan dan ketrampilan tingkat tinggi yang telah dimiliki dalam memmecahkan masalah yang bersifat realistik atau autentik. Beberapa jenis assesmen kinerja itu adalah tugas-tugas membuat proyek individual atau kelompok, contoh tulisan atau karangan, memecahkan masalah terbuka, wawancara atau presentasi lisan, eksperimen ilmiah, simulasi komputer, pertanyaan yang membutuhkan kontruksi jawaban, dan portofolio . asesmen kinerja ini umumnya mendekati kehidupan nyata, dimana peserta didik harus mengerjakan tugas dalam batas waktu tertentu.
Asesmen autentik merupakan jenis asesmen kinerja. Nama autentik itu diperoleh dari fokus teknik evaluasi yang digunakan untuk mengukur tugas-tugas kompleks, relevan, dan di dalam duna nyata. Asesmen autentikdapat berbentuk karya ilmiah dan memperbaiki karya tulis ilmiah, memberikan analisis  tentang peristiwa-peristiwa secara tertulis atau lisan, berkolaborasi dengan orang lain dalam melaksanakan perdebatan dan melaksanakanpenelitian. Tugas-tugas tersebut mempersyaratkan peserta didik mensintesis pengetahuan dan membuat jawaban dengan benar. Validitas asesmen autentik didasarkan pada relevansi materi yang tersaji di dalam kurikulum dengan keterterapannya di dalam dunia nyata. Asesmen autentik itu dapat memperoleh reliabilitas tinggi apabila menggunakan kriteria evaluasi yang telah ditentukan sebelumnya.
Asesmen kinerja memiliki kemampuan untuk mengetahui minat peserta didik, memperbaik prestasi belajar peserta didik, meningkatkan standar akademik, dan meningkatkan pengembangan kurikulum yang lebih terpadu. Untuk melaksanakan asesmen kinerja itu, berikut tahap-tahap yang harus dilalui.
a.         Identifikasi hasil pembelajaran. Hasil pembelajaran itu diperoleh dari tujuan pembelajaran. Pertanyaannya adalah apakah yang ingin diketahui oleh peserta didik dan apa yang dapat mereka kerjakan? Misalnya, dalam pelajaran IPS, pendidik menghendakiagar peserta didik memahami dan menerapkan prinsip-prinsip demokratis, seperti perlindungan hak-hak sipil.
b.         Kembangkan tugas-tugas yang dapat dilakukan oleh peserta didik dalam mempelajari tujuan pembelajaran. Setelah mengidentifikasi hasil belajar, pertanyaaan berikutnya adalah apakah yang akan dilakukan oleh peserta didik dalam mempelajari tujuanpembelajaran. Dalam hal ini peserta didik belajar dan mendemonstrasikan tujuan pembelajaran denganberbagai cara, misalnya, dengan cara membaca, berbicara, berdiskusi, bermain peran, menulis, pembuatan keputusan, atau pemecahan masalah.
c.         Identifikasi hasil belajar tambahan yang didukung oleh tugas. Tugas yang kompleks adalah lebih dari sekedar mendemonstrasikan dan menerapkan pengetahuan, misalnya hak-hak sipil sebagai suatu prinsip-prinsip demokratis. Tugas seperti ini mempersyaratkan beberapa tugas, termasuk di dalamnya ketrampilan dasar seperti membaca, memperoleh informasi, menulis, dan ketrampilan berpikir kritis, mengevaluasi data dan menarik kesimpulan. Karena tugas kinerja itu bersifat autentik, maka tugas itu lebih banyak mendukung belajar dan lebih dari satu tujuan belajar.
d.        Rumusan kriteria dan tingkat kinerja untuk mengevaluasi kinerja peserta didik. Dalam tahap ini, pertanyannya adalah bagaimana pendidik mengetahui kualitas kegiatan peserta didik? Salah satu cara untuk mengakses kinerja peserta didik adalah mengembangkan krteria yang dapat digunakan untuk menilai dan mendeskrepsikan tingkat kinerja.

F.       Asesmen Portofolio
Asesmen portofolio merupakan bentuk evaluasi kinerja yang paling populer. Portofolo biasanya berbentuk file atau folder yang berisi koleksi karya pesertadidik. Pada mulanya portofolio digunakan di bidang seni dan menulis, yang diawali mulai dari penulisan draft, revisi, dan produk akhir untuk mengetahui kemajuan peserta didik. Walaupun begitu, asesmen portofolio ini juga digunakan di bidang lain seperti  matematika dan IPA. Dengan mencatat kemajuan peserta didik, asesmen portofolio digunakan untuk mencatat keberhasilan peserta didik dalam melaksanakan tugas.
Portofolio yang dirancang dengan baik bersi karya peserta didik yang berkaitan dengan tugas-tugas instruksional, dan mencerminkan pencapaian tujuan kurikulum. Pendidik memiliki kesempatan untuk memahami  apa yang sedang dipelajari oleh peserta didk. Sebagai produk dari kegiatan pembelajaran, portofolio menggambarkan ketrampilan berpikir kompleks dan belajar kontekstual.
Keputusan mengenai hal-hal apa yang dimaksudkan ke dalam portofolio tergantung pada tujuan pembuatan portofolio. Pembuatan portofolio dapat digunakan untuk merekam karya peserta didk, mengkomunikasikan pekerjaannya, dan menghubungkan pekerjaan peserta didik dengan konteks yang lebih luas. Portofolio dapat dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik, meningkatkan belajar melalui refleks dan asesmen diri, dan digunakan untuk menilai proses menulis dan berpikir peserta didik. Isi portofolio dapat digunakan untuk mengukur kebutuhan peserta didik tertentu atau bidang-bidang studi tertentu. Materi di dalam portofolio hendaknya diorganisir dalam bentuk kronologis. Pengorganisasian ini dapat memperlancar penetapan waktu pembuatan komponen-komponen dari suatu folder. Portofolio juga dapat diorganisir berdasarkan pada bidang-bidang kurikulum atau kategori perkembangan anak.
Portofolio dapat dievaluasi dengan dua cara, tergantung pada penggunaan skor. Pertama, yaitu evaluasi berbasis kriteria. Kemajuan peserta didik dibandingkan dengan standar kinerja yang sesuai dengan kinerja peserta didik lainnya, atau kurikulum. Tingkat prestasi dapat diukur dalam bentuk seperti dasar, terampil, mahir atau dapat dievaluasi dengan berbagai tingkatan yang pada akhirnya memberikan peluang untuk membuat perbedaan antar peserta didik. Tenik evaluasi portofolio kedua adalah mengukur kemajuan peserta didik individual pada periode waktu tertentu. Teknik ini digunakan asesmen perubahan pengetahuan atau keterampilan peserta didik.
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengakses portofolio. Metode evaluasi portofolio dapat dioperasionalisasikan dengan menggunakan rubrik, yaitu pedoman penskoran yang berisi rumusan semua dimensi yang diakses. Rubrik itu dapat berbentuk holistik yang menghasilkan skor tunggal, atau dapat berbentuk analitik yang menghasilkan beberapa skor yang memberi peluang evaluasi pengetahuan dan keterampilan penting. Penentuan rangking yang bersifat holistik, kadang-kadang menggunakan asesmen portofolio, didasarkan pada kesan umum dari suatu kinerja. Dalam hal ini penilai memadukan kesannya dengan skala nilai, umumnya terfokus pada aspek-aspek kinerja spesifik.
Apakah penggunaan pendekatan holistik atau analitik, kriteria penskoran yang baik yaitu mampu mengklarifikasi objektivitas dengan cara memberi informasi kepada peserta didik, meningkatkan objektivitas dengan cara memberi informasi kepada peserta didik tentang seberapa baik mereka itu akan diakses, dan membantu pendidik membuat skor yang akurat dan tidak bias. Evaluasi portofolio juga dapat memanfaatkan pendidik dan peserta didik serta evaluasi teman sebaya. Beberapa pendidik dapat meminta peserta didiknya mengevaluasi pekerjaannya sendiri sebagai bentuk refleksi dan memantau kemajuan belajarnya sendiri.
Ada beberapa masalah berkenaan dengan asesmen portofolio. Salah satu masalahnya adalah ketika asesmen ini digunakan dalam skala besar, karena portofolio memerlukan banyak waktu dan biaya dalam melaksanakan evaluasi, terutama apabila dibandingkan dengan jenis evaluasi lainnya. Pertanyaan lain yang muncul yaitu apakah peserta didik akan menerima rangking atau skor yang diperoleh peserta didik mungkin beberapa apabila pekerjaan peserta didik dikoreksi oleh pendidik yang berbeda.
Ada berbagai cara untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan objektivitas dan reliabilitas asesmen portofolio. Pertama, ketika menilai kinerja, penggunaan rentang skor yang kecil, misalnya A, B, C, D, dan E, dapat menghasilkan skor yang lebih reliabel jika dibandingkan dengan penggunaan rentang skor yang lebih besar. Demikian pula, beberapa guru dapat menggunakan grading holistik dalam mengevaluasi peserta didik. Apabila asesmen portofolio didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya, reliabilitasnya akan tinggi. Kedua, peningkatan objektivitas asesmen portofolio dapat menggunakan beberapa evaluator. Dengan menggunakan beberapa evaluator, penilaian portofolio dapat membantu memastikan bahwa skor awal yang diberikan oleh evaluator akan menggambarkan kompetensi pekerjaan peserta didik. Ketiga, untuk menguji reliabilitas kor adalah menilai kembali portofolio selama periode waktu tertentu, mungkin satu bulan, kemudian membandingkannya dengan skor portofolio yang diberikan awal penskoran, untuk menegtahui konsistensi penskoran.
Masalah lain adalah pengembangan dan pembuatan rangking pada tugas-tugas portofolio. Untuk memcahkan masalah itu, tugas-tugas portofolio dapat didiskusikan oleh beberapa pendidik yang memiliki latar belakang kebudayaan berbeda. Pendidik tersebut dapat melacak kembali cara-cara peserta didik yang memiliki berbagai latar belakang kebudayaan melaksanakan suatu pekerjaan dan mengakses kembali untuk mengetahui konsistensi penskoran.
Dibandingkan dengan tes formal (tes tertulis dan sejenisnya) asesmen portofolio memiliki berbagai keuntungan, diantaranya :
a.         Dengan menunjukkan apa yang dikerjakan peserta didik pada suatu portofolio, mereka dapat mendemonstrasikan keterampilan dan kompetensinya kepada pendidik, sekolah, dan orang tuanya. Portofolio ini memberikan informasi yang sangat penting di dalam menilai mutu pendidikan dan mutu prestasi peserta didik.
b.         Karena terfokus pada hasil pembelajaran, portofolio dapat diintegrasikan dengan kegiatan pembelajaran.
c.         Sasaran asesmen portofolio adalah kemampuan peserta didik dalam berpikir kompleks, pemahaman mendalam dan penerapan pengetahuan. Bukan sebaliknya pengetahuan dan keterampilan terbatas, seperti mengingat fakta ataupun konsep.
d.        Karena portofolio menawarkan berbagai cara kepada peserta didik untuk mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka dapat kerjakan, maka peserta didik terdorong menjadi pembelajar reflektif yang bertanggung jaawab atas pertumbuhan dan perkembangannya sendiri.
e.         Portofolio memberikan kesempatan kepada pendidik untuk memahami apa yang dipelajari oleh peserta didiknya, sehingga para pendidik dapat merancang pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
Walaupun para pendidik dalam menggunakan asesmen portofolio itu memerlukan banyak waktu dalam mengembangkan, mengimplementasikan, dan menskor portofolio, namun penggunaannya memiliki konsekuensi positif terhadap belajar dan pembelajaran. Demikian pula asesmen ini dapat meningkatkan keterampilan, prestasi, dan motivasi peserta didik untuk belajar.
Dalam menerapkan asesmen portofolio, ada beberapa tahap yang harus dilalui yaitu:
a.         Perencanaan dan pengorganisasian
1)        Kembangkan perencanaan portofolio yang bersifat fleksibel. Apakah tujuan yang akan dicapai melalui portofolio itu ? aspek-aspek apa saja yang diperlukan ? kapan dan bagaimana aspek-aspek itu ditetapkan ? kriteria apakah yang akan diterapkan untuk refleksi dan evaluasi ?
2)        Rencanakan waktu secukupnya agar peserta didik mempersiapkan dan mendiskusikan aspek-aspek portofolio. Asesmen portofolio memerlukan banyak waktu dan pemikiran dibandingkan dengan koreksi ujian tertulis.
3)        Mulai dengan satu aspek belajar dan hasil belajar peserta didik, kemudian semakin meningkat sejalan dengan apa yang dipelajari peserta didik. Proses menulis karangan, misalnya adalah sangat cocok untuk didokumentasikan melalui portofolio.
4)        Pilih aspek-aspek yang dimaksudkan di dalam portofolio yang mampu menunjukkan kemajuan peserta didik atau penugasan tujuan pembelajaran.
5)        Pilih setidak-tidaknya dua aspek, yakni indikator yang diperlukan atau aspek-aspek inti, dan sampel pekerjaan yang dipilih. Kumpulan indikator inti atau yang dipersyaratkan itu hendaknya menunjukkan kemajuan peserta didik. Sampel pekerjaan pilihan menunjukkan kekuatan dan minat individu peserta didik.
6)        Tempatkan daftar tujuan di depan masing-masing portofolio, bersamaan dengan daftar indikator yang dipersyaratkan dan tempat mencatat aspek-aspek pilihan, agar supaya pendidik dan peserta didik mudah mengetahui isinya.
b.        Implementasi
1)        Lekatkan perkembangan aspek-aspek portofolio di dalam kegiatan kelas yang sedang berlangsung untuk menghemat waktu, dan pastikan bahwa aspek-aspek portofolio itu merupakan cerminan dari pekerjaan peserta didik, dan mampu meningkatkan keautentikan.
2)        Berikan tanggung jawab kepada peserta didik untuk mempersiapkan, memilih, menilai, dan menyimpan portofolionya sendiri.
3)        Bagi aspek-aspek portofolio yang telah dipilih, refleksi model dan asesmen diri akan membantu peserta didik menyadari proses yang mereka lakukan, apa yang mereka pelajari dan telah mereka pelajari, dan apa yang dapat mereka lakukan pada waktu yang berbeda.
4)        Catat komentar pendidik dan peserta didik dengan segera terhadap portofolio tersebut, dan lekatkan komentar itu pada aspek-aspek portofolio. Biarkan peserta didik membuat komentar atas portofolionya sendiri.
5)        Selektif. Portofolio bukan sebagai kumpulan sampel karya peserta didik yang sembarangan. Portofolio berisi aspek-aspek dari karya peserta didik terpilih yang mampu meningkatkan belajar peserta didik.
c.         Hasil
1)        Analisis aspek-aspek portofolio untuk memahami pengetahuan dan keterampilan peserta didik. Melalui analisis ini pendidik akan memahami kekuatan dan kebutuhan peserta didik, proses berpikir, prakonsepsi, kesalahan konsepsi, pola-pola kesalahan, dan perbandingan perkembangan.
2)        Gunakan informasi portofolio itu untuk mendokumentasikan kegiatan belajar peserta didik, untuk disampaikan kepada orang tua, dan memperbaiki pembelajaran di kelas.



BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Asesmen merupakan kegiatan sistematik untuk memperoleh informasi tentang apa yang diketahui, dilakukan, dikerjakan oleh peserta didik. Asesmen biasanya berkaitan dengan prestasi peserta didik. Dalam pemakaian paling sempit, asesmen disamakan dengan ujian.
Asesmen memiliki dua tujuan, yaitu tujuan isi dan tujuan proses. Tujuan asesmen pembelajaran yaitu asesmen formatif dan sumatif, asesmen objektif dan subjektif, asesmen acuan patokan dan acuan normatif serta asesmen formal dan informal.
Prinsip-prinsip asesmen yaitu Tujuan utama asesmen adalah memperbaiki belajar peserta didik, Asesmen bertujuan untuk mendukung belajar peserta didik, Objektif bagi semua peserta didik,  Kolaborasi profesional, Partisipasi Komite Sekolah dalam Pengembangan Asesmen, Keteraturan dan Kejelasan Komunikasi mengenai Asesmen, Peninjauan Kembali dan Perbaikan Asesmen.
Asesmen ada dua macan, asesmen autentik (asesmen kinerja) dan asesmen portfolio. Asesmen autentik memiliki kemampuan untuk mengetahui minat peserta didik, meningkatkan prestasi belajar, meningkatkan standar akademik, dan meningkatkan pengembangan kurikulum yang lebih terpadu, sedangkan asesmen portfolio merupakan hasil evaluasi kerja.
Dalam kegiatan belajar mengajar, asesmen ini dianggap sangat penting, karena selain dapat mengevaluasi hasil belajar peserta didik, juga bisa menjadi penambah semangat bagi peserta didik agar mencapai hasil yang maksimal.

B.       Saran
Kita sebagai colon guru hendaknya mengerti dan benar-benar paham mengenai asesmen, karena asesmen akan sangat bermanfaat saat kita bekerja nanti. Mengingat masa depan yang akan kita hadapi tentu akan berbeda dengan masa yang sedang kita jalani sekarang ini, maka dengan mengetahui asesmen ini, kita bisa mengevaluasi cara kerja kita sendiri.













DAFTAR PUSTAKA

Rifa’i RC, Achmad. dan Catharina Tri Anni. 2010. Psikologi Pendidikan. Semarang : UNNES Press.
Poerwanti, Endang, dkk. 2008. Asesmen Pembelajaran . Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

2 komentar:

  1. How to Play Slots at Sands Casino - Shootercasino
    As you may 샌즈카지노 have guessed, this is a slot game, as with all the other games on the rb88 casino's website, it has a big prize pool. It

    BalasHapus
  2. Sky Casino in Jordan 7-star Discounts - Air Jordan7
    Shop how to find air jordan 18 retro men blue for SKYCITY's 먹튀 사이트 7 STAR discount 윈윈 사이트 code and promo. Save with our latest SKYCITY promotional codes & free air jordan 18 retro racer blue online site promo for more than 15 countries. 마추자

    BalasHapus