MAKALAH
PENGERTIAN ASSESMEN, TUJUAN ASSESMEN
Diajukan
Dan Disusun Guna Memenuhi
Tugas
Mata Kuliah Assesmen AUD I
Dosen Pengampu : Edy Yudiarto,
M.Pd

Disusun Oleh :
|
Nama
|
:
|
||
|
|
:
|
||
|
Semester
|
:
|
|
|
|
Pokjar
|
:
|
|
|
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ( IKIP )
VETERAN SEMARANG
2016
KATA PENGANTAR
Segala puja dan puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunianya,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Pengertian Assesmen dan Tujuan
Assesmen ini dengan baik.
Kami menyadari bahwa
terdapat banyak kekurangan yang terdapat pada Makalah ini sebagai akibat dari keterbatasan dari
pengetahuan kami. Sehubungan dengan hal tersebut,kami akan selalu membuka diri untuk menerima
segala kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak. Semoga Makalah ini
bermanfaat bagi kita semua.
Pemalang, 25 November 2016
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.............................................................................. i
KATA PENGANTAR............................................................................ ii
DAFTAR ISI.......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang............................................................................ 1
B. Rumusan
Masalah........................................................................ 2
C. Tujuan.......................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian.................................................................................... 3
B. Sejarah
Asesmen.......................................................................... 5
C. Tujuan
Asesmen.......................................................................... 7
D. Prinsip-prinsip
Asesmen.............................................................. 11
E. Asesmen
Autentik (Asesmen Kinerja)....................................... 14
F.
Asesmen Portofolio..................................................................... 18
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................. 26
B. Saran............................................................................................ 27
DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 28
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dewasa ini istilah asesmen banyak
digunakan dalam kegiatan evaluasi, terutama setelah diberlakukannya kurikulum
berbasis kompetensi. Kurikulum ini memiliki karakteristik tertentu baik dalam perencanaan
pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, maupun evaluasi pembelajaran.
Dengan diberlakukannya Kurikulum 2004
(Kurikulum Berbasis Kompetensi), membawa implikasi terhadap model pendekatan
pembelajaran dan teknik penilaian. Penilaian terdiri atas penilaian eksternal
dan penilaian internal. Penilaian eksternal merupakan penilaian yang dilakukan
oleh pihak lain yang tidak melaksanakan proses pembelajaran dan dilakukan oleh
suatu lembaga, dimaksudkan antara lain untuk pengendali mutu. Sedangkan penilaian
internal adalah penilaian yang direncanakan dan dilakukan oleh guru pada saat
proses belajar mengajar berlangsung untuk penjaminan mutu pembelajaran.
Penilaian hasil belajar peserta didik dilakukan oleh guru untuk memantau
proses, kemajuan, perkembangan hasil belajar peserta didik sesuai dengan
potensi yang dimiliki dan kemampuan yang diharapkan secara berkesinambungan.
Penilaian juga dapat memberikan umpan balik kepada guru agar dapat
menyempurnakan perencanaan dan proses pembelajaran.
Dalam kegiatan evaluasi pembelajaran,
kurikulum ini tidak hanya mempersyaratkan penggunaan tes formal seperti halnya
yang baisa digunakan selama ini, melainkan juga evaluasi alternative yang
dinamakan dengan asesmen portofolio (autentik) maupun asesmen kinerja (performance).
Pemakalah ingin membahas bagaimana asesmen belajar beserta prosedur
penerapannya dengan baik dan benar.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa pengertian asesmen ?
2.
Bagaimana sejarah asesmen ?
3.
Apa saja tujuan asesmen ?
4.
Bagaimana prinsip-prinsip asesmen ?
5.
Apa yang dimaksud dengan asesmen autentik (asesmen kinerja)?
6.
Apa yang dimaksud dengan asesmen portofolio ?
C. Tujuan
1.
Menjelaskan konsep asesmen dalam pembelajaran.
2.
Menjelaskan sejarah asesmen.
3.
Menjelaskan tujuan asesmen.
4.
Menjelaskan prinsip-prinsip asesmen.
5.
Menjelaskan konsep asesmen kinerja beserta prosedur
penerapannya.
6.
Menjelaskan konsep asesmen portofolio beserta prosedur
penerapannya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Asesmen merupakan proses mendokumentasi, melalui proses
pengukuran, pengetahuan, keterampilan, sikap, dan keyakinan peserta didik.
Dapat dinyatakan pula bahwa asesmen merupakan sistematik untuk memperoleh
informasi tentang apa yang diketahui, dilakukan, dan dikerjakan oleh peserta
didik. Berikut disajikan beberapa pengertian asesmen yang disampaikan oleh
pakar asesmen pembelajaran:
a.
Khan, Hardas, dan Ma (2005) menyatakan bahwa asesmen
merupakan proses mendokumentasikan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan
keyakinan.
b.
NAEYC (1990) menyatakan bahwa asesmen merupakan proses
pengamatan, pencatatan dan selanjutnya pendokumentasian pekerjaan yang
dikerjakan peserta didik dan cara-cara peserta didik mengerjakannya, untuk
dijadikan sebagai dasar dari berbagai pembuatan keputusan pendidikan yang
mempengaruhi anak.
c.
Dodge dan Bickart (1994) menyatakan bahwa asesmen merupakan
proses memperoleh informasi tentang anak untuk membuat keputusan tentang
pendidikannya.
d.
Hills (1992) menyatakan bahwa asesmen terdiri atas tahap
pengumpulan data tentang perkembangan dan belajar peserta didik, menentukan
kebermaknaan tujuan program, memadukan informasi kedalam perencanaan program,
dan mengkomunikasikan temuan kepada orang tua dan pihak-pihak yang
berkepentingan.
Dari keempat pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
assasmen merupakan Metode dan alat
asesmen meliputi: observasi, asesmen amndiri oleh pesertadidik, tugas praktek
harian, contoh hasil pekerjaan peserta didik, tes tertulis, skala penilaian,
proyek, laporan tertulis, review kinerja, dan asesmen portofolio. Kinerja
peserta didik dinilai dari informasi yang dikumpulkan melalui kegiatan asesmen,
pendidik menggunakan pemahamannya, pengetahuan tentang belajar, dan pengalaman
peserta didik, kemudian membandingkannya dengan criteria yang telah dirumuskan
dalam membuat penilaian mengenai kinerja peserta didik berkenaan dengan hasil
belajaryang telah ditetapkan.
Evaluasi memiliki kesamaan dengan asesmen, asesmen
biasanya berkaitan dengan prestasi belajar peserta didik. Dalam pemakaian yang
lebih sempit, asesmen disamakan dengan ujian, sedangkan dalam pemakaian yang
lebih luas, asesmen disamakan dengan evaluasi. Oleh karena itu evaluasi pendidikan
biasanya meliputi asesmen hasil belajar peserta didik. Evaluasi memiliki tujuan
untuk mengetahui sikap peserta didik, kesadaran karir, kepekaan budaya, praktek
pembelajaran, kurikulum, personel sekolah, dan sebagainya.
Beberapa pratisi pendidikan ada yang menggunakan
kedua istilah tersebut secara bergantian, namun ada pula yang memandang
berbeda, yakni isi evaluasi dipandang lebih luas dibandingkan dengan asesmen
karena evaluasi berkaitan dengan pembuatan keputusan tentang nilai atau harga
dari suatu objek. Asesmen dipandang sebagai proses pengukuran terhadap suatu
karakteristik tertentu, seperti deskripsi tujuan, sementara evaluasi dipandang
sebagai proses pengukuran terhadap suatu karakteristik dan penentuan nilai atau
harga suatu objek. Shepard (1994) membedakan antara istilah asesmen dengan tes,
walaupun secara teknis keduanya memiliki makna yang sama. Dia menyatakan tes
sebagai kegiatan pengukuran tradisional, pengukuran pra akademik dan
perkembangan anak yang tidak standar, dan menggunakan istilah asesemen yang
mengacu pada proses pengamatan dan penilaian anak yang sesuai dengan
perkembangan anak.
Perbedaan lain berkaitan dengan objek yang dikaji.
Asesmen biasanya berkaitan dengan peserta didik. Dalam pemakaian yan paling
sempit, asesmen disamakan dengan ujian. Dalam pemakaian yang paling luas,
asesmen digunakan secara bergantian dengan evaluasi. Evaluasi kegiatan
pendidikan dapat menggunakan asesmen hasil belajarpeserta didik namun dalam
skala yang lebih luas. Evaluasi dapat mencakup tujuan seperti sikap peserta
didik, kesadaran karier peserta didik, kepekaan cultural, praktik mengajar, dan
sebagainya.
B. Sejarah Asesmen
Kegiatan
asesmen muncul pertama kali di China pada tahun 206 sebelum masehi ketika
dinasti Han memperkenalkan ujian untuk membantu proses seleksi pegawai
kerajaan. Pada tahun 822 setelah masehi dinasti Tang melaksanakan ujian
tertulis bagi calon pegawai kerajaan, ujian itu berlangsung selama beberapa
hari dan yang lulus mencapai 2%, calon pegawai yang berhasil kemudian diberikan
asesmen lisan oleh raja.
Di
Eropa, ujian yang digunakan selama abad pertengahan digunakan untuk membantu
seleksi calon pendeta dan kesatria, dan anak-anak sekolah di uji pengetahuan
tentang katekismus. Universitas Paris pertama kali memperkenalkan ujian forma
selama abad 12. Ujian itu adalah perselisihan tentang teologi. Pada tahun
1974an, Universitas Cambridge mulai menggunakan ujian lisan untuk membandingkan
peserta didik, sama dengan ujian yang diselenggarakan oleh dinasti Han di
China. Selama abad ke 18, Universitas Cambridgedan Oxford mulai menguji
kemampuan matematika kepada peserta didiknya dengan menggunakan ujian tertulis
kemudian menggunakan kertas untuk asesmen pada semua mata kuliah.
Amerika
Serikat memperkenalkan ujian tertulis pada pada tahun 1830an dalam upaya
mengurangi subjektivitas asesmen. Horace Mann memperkenalkan ujian tertulis di
Boston Public School untuk membandingkan kinerja sekolah. Walaupun demikian,
kontribusi utama Amerika Serikat dalam sejarah ujian itu dating selama perang
dunia pertama ketika Angkatan Bersenjata Amerika Serikat memperkenalkan tes IQ
berskala besar untuk mengangkat sejumlah besar calon prajurit yang akan
menduduki jabatan di Angkatan Bersenjata. The Army Alpha, sebagaimana yang
telah dikenal, merupakan pertanyaan pilihan ganda dan diterapkan pada dua juta
calon prajurit.
C. Tujuan Asesmen
Asesmen
memiliki dua tujuan, yaitu tujuan isi dan tujuan proses (Herman, Aschbacher,
and Winters, 1992). Asesmen yang berkaitan dengan tujuan isi digunakan untuk
menentukan seberapa jauh peserta didik telah mempelajari pengetahuan dan
keterampilan spesifik. Dalam hal ini asesmen harus terfokus pada hasil belajar
peserta didik. Asesmen yang berkaitan dengan proses digunakan untuk
mendiagnosis kekuatan dan kelemahan peserta didik serta merencanakan
pembelajaran yang sesuai dengan kondisi peserta didik.
Tujuan
asesmen pembelajaran pada dasarnya tergantung pada penggunaan jenis-jenis
asesmen. Ada empat jenis asesmen dalam pembelajaran, yaitu: (a) asesmen
formatif dan sumatif; (b) asesmen objektif dan subjektif; (c) asesmen acuan
normatif dan acuan patokan, dan (d) asesmen formal dan informal.
a.
Asesmen formatif dan sumatif
Asesmen sumatif biasanya dilaksanakan di akhir pembelajaran,
dan digunakan untuk membuat keputusan tentang kenaikan kelas peserta didik.
Asesmen formatif umumnya dilaksanakan selam proses pembelajaran berlangsung.
Kegiatan asesmen formatif dapat berbentuk pemberian balikan atas pekerjaan
peserta didik, dan tidak akan dijadikan sebagai dasar untuk kenaikan kelas
peserta didik. Dalam konteks belajar, asesmen sumatif dan formatif disebut
dengan asesmen belajar.
Salah satu bentuk asesmen formatif adalah asesmen
diagnostic. Asesmen diagnostic mengukur pengetahuan dan keterampilan peserta
didik untuk mengidentifikasi program belajar yang sesuai dengan kemampuan
peserta didik. Asesmen mandiri oleh peserta didik merupakan bentuk asesmen
diganostik yang melibatkan peserta didik mengakses dirinya sendiri.
b.
Asesmen objektif dan subjektif
Asesmen bentuk objektif merupakan bentuk pertanyaan yang
memiliki satu jawaban yang benar. Asesmen subjektif merupakan bentuk
pertanyaan yang memiliki lebih dari satu jawaban yang benar (atau lebih dari
satu cara mengungkapkan jawaban yang benar). Ada beberapa jenis pertanyaan
berbentuk objektif dan subjektif. Jenis pertanyaan berbentuk objektif yaitu
pertanyaan yang memiliki alternatif jawaban benar dan salah, pilihan ganda,
pertanyaan menjodohkan, dan jawaban ganda. Pertanyaan subjektif yaitu
pertanyaan yang membutuhkan jawaban luas dan ada yang berbentuk uraian.
c.
Asesmen acuan patokan dan acuan
normatif
Asesmen acuan patokan, biasanya menggunakan tes acuan
patokan, merupakan asesmen yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta
didik berdasarkan criteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Asesmen acuan
patokan membandingkan kemampuan peserta didik dengan criteria, atau asesmen
yang memfokuskan diri pada kinerja individu yang diukur berdasarkan pada
criteria atau standar absolute. Asesmen acuan patokan seringkali digunakan
untuk mengukur kompetensi peserta didik.
Prosedur asesmen acuan patokan mencakup urutan
kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
§
Identifikasi hasil belajar yang diharapkan.
§
Rumuskan kriteria. Jika memungkinkan, libatkan peserta didik
dalam merumuskan kriteria
§
Rencanakan kegiatan belajar yang membantu peserta didik
memperoleh pengetahuan dan keterampilan.
§
Sebelum kegiatan belajar berlangsung, komunikasikan kriteria
tersebut dan pekerjaan yang akan diakses.
§
Berikan contoh kinerja yang diinginkan.
§
Implementasikan kegiatan belajar.
§
Gunakan beberapa metode asesmen berdasarkan tugas yang
diberikan.
§
Kaji kembali data asesmen dan evaluasi masing-masing tingkat
kinerja peserta didik atau kualitas pekerjaan dengan menggunakan kriteria
§
Apabila diperlukan, berikan tanda huruf (misalnya A, B, C,
D) yang menunjukkan pemenuhan hasil belajar peserta didik dan orangtua
§
Laporkan hasil asesmen kepada peserta didik dan orangtua
Asesmen acuan normatif, atau dikenal dengan penentuan
rangking berdasarkan kurva norml, biasanya menggunakan tes acuan normatif, tidak
digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik berdasarkan kriteria yang
telah ditetapkan sebelumnya. Dengan kata lain yaitu asesmen yang distandarkan
pada sekelompok individu yang kinerjanya dinilai dalam hubungannya dengan
kinerja individu lainnya. Asesmen ini sangat efektif untuk membandingkan
kemampuan peserta didik satu dengan peserta didik lainnya. Asesmen untuk ujian
masuk sekolah biasanya emnggunakan asesmen acuan normative, karena asesmen ini
dapat menunjukkan proporsi jumlah calon peserta didik yang lulus datau diterima
di sekolah atau di universitas , dan bukan menunjukkan tingkat kemampuan calon
peserta didik yang sesungguhnya.
d.
Asesmen formal dan informal
Asesmen
formal biasanya diwujudkan dalam bentuk dokumen tertulis, seperti tes tertulis.
Asesmen formal diberikan skor dalam bentuk angka atau penentuan rangking
berdasarkan pada kinerja peserta didik.
Asesmen informal tidak dimaksudkan
untuk menentukan rangking akhir peserta didik. Asesmen ini biasanya dilakuan
dengan cara yang lebih terbuka, seperti kegiatan asesmen yang dilaksanakan
melalui observasi, inventori, partisipasi, evaluasi diri dan teman sebaya, dan
diskusi.
D. Prinsip-prinsip Asesmen
Asesmen yang baik harus berdasarkan pada landasan
pendidikan. Landasan pendidikan ini meliputi pengorganisasian sekolah dalam
memenuhi kebutuhan belajar seluruh peserta didik, memahami cara peserta didik
belajar, menetapkan standar tinggi pada kegiatan belajar peserta didik dan
memberikan kesempatan bealajar peserta didik yang memadai.
Ada tujuh prinsip dalam menerapkan
asesmen belajar. Berikut disajikan ketujuh prinsip yang dimaksud :
a.
Tujuan utama asesmen adalah memperbaiki
belajar peserta didik
Asesmen kelas maupun berskala besar, diorganisir dengan
tujuan untuk memperbaiki belajar peserta didik. Asesmen ini memberikan
informasi yang sangat bermanfaat mengenai apa yang telah dicapai oleh peserta
didik terhadap tujuan belajar dan mengenai kemampuan belajar masing-masing
peserta didik. Asesmen menggunakan metode yang konsisten dengan tujuan belajar,
kurikulum, pembelajaran, dan pengetahuan mutakhir tentang peserta didik.
b.
Asesmen bertujuan untuk mendukung
belajar peserta didik
Asesmen baik yang digunakan untuk laporan kemajuan
peserta didik, sertifikasi peserta didik, dan informasi untuk perbaikan dan
akuntabilitas sekolah adalah dimaksudkan untuk mendukung belajar peserta didik.
Pendidik dan sekolah membuat keputusan, seperti kenaikan kelas, kelulusan
peserta didik adalah didasarkan pada informasi yang diperoleh secara terus
menerus, bukan data yang diperoleh dari asesmen akhir semester. Demikian pula
informasi yang digunakan untuk perbaikan dan akuntabilitas sekolah juga berasal
dari data pekerjaan dan asesmen peserta didik yang diperoleh secara terus
menerus.
Asesmen akuntabilitas menggunakan prosedur pengambilan
sampel pekerjaan peserta didik. Asesmen ini mengembangkan standar teknis dan
standar itu digunakan untuk memastikan agar asesmen yang diterapkan memiliki
kualitas tinggi, serta digunakan untuk memantau konsekuensi pendidikan atas penggunaan
asesmen tersebut.
c.
Objektif bagi semua peserta didik
Asesmen yang baik akan memberikan
keyakinan bahwa semua peserta didik akan memperoleh perlakuan yang sama.
Asesmen menggunakan berbagai metode dalam mengakses kemajuan peserta didik
serat cara-cara peserta didik mengungkapkan pengetahuan dan pemahamannya terhadap
mata pelajaran. Asesmen tidak akan melenceng dan mampu menggambarkan
pengetahuan dan keterampilan aktual peserta didik.
d.
Kolaborasi professional
Pendidik
yang memiliki sikap objektif adalah penting bagi persyaratan asesmen yang
berkualitas. Pendidik menentukan dan berperan serta dalam pengembangan
professional serta bekerjasama untuk memperbaiki system asesmen. Kemampan
professional iu diperkuat melalui sekelompok pendidik memberikan skor pekerjaan
peserta didik. Sekolah, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah Provinsi, dan
Pemerintah Pusat perlu menyediakan sumberdaya yang diperlukan untuk
pengembangan professional pendidik dalam menerapkan asesmen pembelajaran.
e.
Partisipasi Komite Sekolah dalam
Pengembangan Asesmen
Pelaksanaan asesmen perlu melibatkan orangtua, anggota
masyarakat, peserta didik, bersama-sama pendidik dan pakar yang memiliki
keahlian tertentu, dalam pengembangan asesmen. Diskusi tujuan dan metode
asesmen perlu melibatkan orang-orang yang peduli dengan pendidikan. Orangtua,
peserta didik, anggota masyarakat memiliki latar belakang berbagai keahlian,
pendidik dan tenaga kependidikan perlu melibatkan diri dalam membentuk sistem
asesmen yang berkualitas.
f.
Keteraturan Dan Kejelasan Komunikasi
Mengenai Asesmen
Pendidik, sekolah, pemerintah kabupaten/ kota, pemerintah
provinsi, dan pemerintah pusat secara jelas dan teratur mendiskusikan praktik
asesmen dan peserta didik serta kemajuan program dengan peserta didik ,
keluarga , dan masyarakat. Penddik dan sekolah mengkomunikasikan tujuan,
metode, dan hasil asesmen. Pendidik dan sekolah melaporkan apa yang diketahui
dan yang mampu dilakukan oleh peserta didik, apa yang perlu dipelajari oleh peserta
didik, dana apa yang akan dilakukan oleh peserta didik untuk perbaikan perilaku
pesertadidik.
Laporan tentang prestasi belajar peserta didik berkenaan
dengan pencapaian tujuan belajar juga perlu dilaporkan. Contoh-contoh asesmen
dan pekerjaan peserta didik perlu diperlihatkan kepada orang tua dan masyarakat
agar mereka mnegetahui kinerja peserta didik. Hasil asesmen perlu dilaporkan
bersama-sama dengan informasi tertentu yang erkaitan dengan program pendidikan,
ketersediaan sumberdaya, dan prestasi sekolah lainnya.
g.
Peninjauan Kembali Dan Perbaikan
Asesmen
Asesmen perlu dikaji kembali dan diperbaki untuk memastikan
bahwa asesmen itu benar-benar memberikan manfaat bagi peserta didik. Tindakan
ini harus dilakukan secara berkesinambungan. Meskipun asesmen itu telah
dipandang memadai, namun perlu diperbaiki mengingat kondisi selalu berubah dan
pengetahuan yang terjadi di masyarakat selalu meningkat.
Peninjauan kembali merupakan dasar bagi pembuatan keputusan
dalam mengubah sebagian atau seluruh asesmen. Peninjauan kembali itu melibatkan
pihak-pihak yang berkepentingan ( Stakeholders) dalam system pendidikan.
Analisis biaya manfaat (cost- benefit analysis) juga perlu dilakukan untuk
mengetahui efek asesmen terhadap belajar.
E. Asesmen Autentik (Asesmen
Kinerja)
Asesmen yang diterapkan di sekolah umumnya menggunakan
test formal. Implementasi ujan seperti ini banyak menimbulkan pertanyaan karena
tidak mampu memberikan indikator terhadap apa yang telah dipelajari oleh
peserta didik, dan seringkali peserta didik membuat terkaan atas butir soal
pilihan ganda, sehingga peserta didik tidak belajar berpartisipasi di dunia
nyata. Pendekatan alternatif untuk menilai peserta didik dewasa ini lebih
banyak melibatkan peserta didik di dalamproses evaluasi yang dipandang mampu
meningkatkan minat dan motivasi belajar.
Test standar umumnya digunakan untuk memungkinkan sekolah
untuk membuat standar yang jelas dan konsisten terhadap peserta didik. Test
tersebut akhir-akhir ini digunakan untuk berbagai tujuan di luar evaluasi kelas.
Test tersebut digunakan untuk menempatkan peserta didik di kelas tertentu,
membimbing peserta didik untuk membuat keputusan mengenai berbagai mata
pelajaran, dan untuk akuntabilitas terhadap keefektivan penyelenggaraan
pendidikan di sekolah berdasarkan kinerja peserta didik.
Apabila tuntutan hasil test peserta didik harus tinggi,
pendidik cenderung mengajarkan materi pembelajaran yang akan diujikan untuk
memperbaiki kinerja peserta didik. Apabila suatu ujian dimaksudkan untuk
menilai ketramplan yang diiinginkan dan untuk menggambarkan penguasaan materi
pembelajaran, hal ini bukan menjadi masalah. Namun demikian, test standar
umumnya menggunakan bentuk pertanyaan yang menggunakan jawaban pendek atau
pilihan ganda karena memberikanpeluang pengolahan hasil valuasi lebih efisien.
Teknik evaluasi seperti ini biasanya mengukur ketrampilan kognitif tingkat
rendah, sementara itupeserta didik perlu menggunakan ketrampilan yang lebih
kompleks ketika mereka berada di luar kelas.
Untuk mendorong peserta didik menggunakan keterampilan
kognitif tngkat tinggi dan mengevaluasi peserta didik secara lebih
komprehensif, ada beberapa assesmen alternatif yang dapat digunakan. Umumnya
assesmen alternatif itu menggunakan teknik evaluasi non standar untuk menilai
proses berpikir kompleks. Asesmen alternatif tersebut melput asesmen berbasis
kinerja dan asesmen acuan patokan.
Asesmen berbasis kinerja ( performance based assesment) merupkan
bentuk ujian dimana peserta didik menjawab suatu pertanyaan atau membuat produk
atau mendemonsrasikan ketrampilan atau menampilkan kemampuan atau pengetahuan.
Dapat juga dinyatakan bahwa assesmen berbasis kinerja merupakan assesmenyang
mengaharuskan peserta didik membuat respon terhadap suatu persoalan. Penerapan
asesman berbasis kinerja ini mempersyaratkan peserta didik secara aktif
menyelesaikan tugas-tugas kompleks dengan menggunakan pengetahuan dan
ketrampilan tingkat tinggi yang telah dimiliki dalam memmecahkan masalah yang
bersifat realistik atau autentik. Beberapa jenis assesmen kinerja itu adalah
tugas-tugas membuat proyek individual atau kelompok, contoh tulisan atau
karangan, memecahkan masalah terbuka, wawancara atau presentasi lisan,
eksperimen ilmiah, simulasi komputer, pertanyaan yang membutuhkan kontruksi
jawaban, dan portofolio . asesmen kinerja ini umumnya mendekati kehidupan
nyata, dimana peserta didik harus mengerjakan tugas dalam batas waktu tertentu.
Asesmen autentik merupakan jenis asesmen kinerja. Nama
autentik itu diperoleh dari fokus teknik evaluasi yang digunakan untuk mengukur
tugas-tugas kompleks, relevan, dan di dalam duna nyata. Asesmen autentikdapat
berbentuk karya ilmiah dan memperbaiki karya tulis ilmiah, memberikan
analisis tentang peristiwa-peristiwa secara tertulis atau lisan,
berkolaborasi dengan orang lain dalam melaksanakan perdebatan dan
melaksanakanpenelitian. Tugas-tugas tersebut mempersyaratkan peserta didik
mensintesis pengetahuan dan membuat jawaban dengan benar. Validitas asesmen
autentik didasarkan pada relevansi materi yang tersaji di dalam kurikulum dengan
keterterapannya di dalam dunia nyata. Asesmen autentik itu dapat memperoleh
reliabilitas tinggi apabila menggunakan kriteria evaluasi yang telah ditentukan
sebelumnya.
Asesmen kinerja memiliki kemampuan untuk mengetahui minat
peserta didik, memperbaik prestasi belajar peserta didik, meningkatkan standar
akademik, dan meningkatkan pengembangan kurikulum yang lebih terpadu. Untuk
melaksanakan asesmen kinerja itu, berikut tahap-tahap yang harus dilalui.
a.
Identifikasi hasil pembelajaran. Hasil pembelajaran itu
diperoleh dari tujuan pembelajaran. Pertanyaannya adalah apakah yang ingin
diketahui oleh peserta didik dan apa yang dapat mereka kerjakan? Misalnya,
dalam pelajaran IPS, pendidik menghendakiagar peserta didik memahami dan
menerapkan prinsip-prinsip demokratis, seperti perlindungan hak-hak sipil.
b.
Kembangkan tugas-tugas yang dapat dilakukan oleh peserta
didik dalam mempelajari tujuan pembelajaran. Setelah mengidentifikasi hasil
belajar, pertanyaaan berikutnya adalah apakah yang akan dilakukan oleh peserta
didik dalam mempelajari tujuanpembelajaran. Dalam hal ini peserta didik belajar
dan mendemonstrasikan tujuan pembelajaran denganberbagai cara, misalnya, dengan
cara membaca, berbicara, berdiskusi, bermain peran, menulis, pembuatan
keputusan, atau pemecahan masalah.
c.
Identifikasi hasil belajar tambahan yang didukung oleh
tugas. Tugas yang kompleks adalah lebih dari sekedar mendemonstrasikan dan
menerapkan pengetahuan, misalnya hak-hak sipil sebagai suatu prinsip-prinsip
demokratis. Tugas seperti ini mempersyaratkan beberapa tugas, termasuk di
dalamnya ketrampilan dasar seperti membaca, memperoleh informasi, menulis, dan
ketrampilan berpikir kritis, mengevaluasi data dan menarik kesimpulan. Karena
tugas kinerja itu bersifat autentik, maka tugas itu lebih banyak mendukung
belajar dan lebih dari satu tujuan belajar.
d.
Rumusan kriteria dan tingkat kinerja untuk mengevaluasi
kinerja peserta didik. Dalam tahap ini, pertanyannya adalah bagaimana pendidik
mengetahui kualitas kegiatan peserta didik? Salah satu cara untuk mengakses
kinerja peserta didik adalah mengembangkan krteria yang dapat digunakan untuk
menilai dan mendeskrepsikan tingkat kinerja.
F. Asesmen Portofolio
Asesmen portofolio merupakan bentuk evaluasi kinerja yang
paling populer. Portofolo biasanya berbentuk file atau folder yang berisi
koleksi karya pesertadidik. Pada mulanya portofolio digunakan di bidang seni
dan menulis, yang diawali mulai dari penulisan draft, revisi, dan produk akhir
untuk mengetahui kemajuan peserta didik. Walaupun begitu, asesmen portofolio
ini juga digunakan di bidang lain seperti matematika dan IPA. Dengan
mencatat kemajuan peserta didik, asesmen portofolio digunakan untuk mencatat
keberhasilan peserta didik dalam melaksanakan tugas.
Portofolio yang dirancang dengan baik bersi karya peserta
didik yang berkaitan dengan tugas-tugas instruksional, dan mencerminkan
pencapaian tujuan kurikulum. Pendidik memiliki kesempatan untuk memahami
apa yang sedang dipelajari oleh peserta didk. Sebagai produk dari kegiatan
pembelajaran, portofolio menggambarkan ketrampilan berpikir kompleks dan
belajar kontekstual.
Keputusan mengenai hal-hal apa yang dimaksudkan ke dalam
portofolio tergantung pada tujuan pembuatan portofolio. Pembuatan portofolio
dapat digunakan untuk merekam karya peserta didk, mengkomunikasikan
pekerjaannya, dan menghubungkan pekerjaan peserta didik dengan konteks yang
lebih luas. Portofolio dapat dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik,
meningkatkan belajar melalui refleks dan asesmen diri, dan digunakan untuk
menilai proses menulis dan berpikir peserta didik. Isi portofolio dapat
digunakan untuk mengukur kebutuhan peserta didik tertentu atau bidang-bidang
studi tertentu. Materi di dalam portofolio hendaknya diorganisir dalam bentuk
kronologis. Pengorganisasian ini dapat memperlancar penetapan waktu pembuatan
komponen-komponen dari suatu folder. Portofolio juga dapat diorganisir
berdasarkan pada bidang-bidang kurikulum atau kategori perkembangan anak.
Portofolio dapat dievaluasi dengan dua cara, tergantung pada
penggunaan skor. Pertama, yaitu evaluasi berbasis kriteria. Kemajuan peserta
didik dibandingkan dengan standar kinerja yang sesuai dengan kinerja peserta
didik lainnya, atau kurikulum. Tingkat prestasi dapat diukur dalam bentuk
seperti dasar, terampil, mahir atau dapat dievaluasi dengan berbagai tingkatan
yang pada akhirnya memberikan peluang untuk membuat perbedaan antar peserta
didik. Tenik evaluasi portofolio kedua adalah mengukur kemajuan peserta didik
individual pada periode waktu tertentu. Teknik ini digunakan asesmen perubahan
pengetahuan atau keterampilan peserta didik.
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengakses
portofolio. Metode evaluasi portofolio dapat dioperasionalisasikan dengan
menggunakan rubrik, yaitu pedoman penskoran yang berisi rumusan semua dimensi
yang diakses. Rubrik itu dapat berbentuk holistik yang menghasilkan skor
tunggal, atau dapat berbentuk analitik yang menghasilkan beberapa skor yang
memberi peluang evaluasi pengetahuan dan keterampilan penting. Penentuan
rangking yang bersifat holistik, kadang-kadang menggunakan asesmen portofolio,
didasarkan pada kesan umum dari suatu kinerja. Dalam hal ini penilai memadukan
kesannya dengan skala nilai, umumnya terfokus pada aspek-aspek kinerja
spesifik.
Apakah penggunaan pendekatan holistik atau analitik,
kriteria penskoran yang baik yaitu mampu mengklarifikasi objektivitas dengan
cara memberi informasi kepada peserta didik, meningkatkan objektivitas dengan
cara memberi informasi kepada peserta didik tentang seberapa baik mereka itu
akan diakses, dan membantu pendidik membuat skor yang akurat dan tidak bias.
Evaluasi portofolio juga dapat memanfaatkan pendidik dan peserta didik serta
evaluasi teman sebaya. Beberapa pendidik dapat meminta peserta didiknya
mengevaluasi pekerjaannya sendiri sebagai bentuk refleksi dan memantau kemajuan
belajarnya sendiri.
Ada beberapa masalah berkenaan dengan asesmen portofolio.
Salah satu masalahnya adalah ketika asesmen ini digunakan dalam skala besar,
karena portofolio memerlukan banyak waktu dan biaya dalam melaksanakan
evaluasi, terutama apabila dibandingkan dengan jenis evaluasi lainnya.
Pertanyaan lain yang muncul yaitu apakah peserta didik akan menerima rangking
atau skor yang diperoleh peserta didik mungkin beberapa apabila pekerjaan
peserta didik dikoreksi oleh pendidik yang berbeda.
Ada berbagai cara untuk memecahkan masalah yang berkaitan
dengan objektivitas dan reliabilitas asesmen portofolio. Pertama, ketika
menilai kinerja, penggunaan rentang skor yang kecil, misalnya A, B, C, D, dan
E, dapat menghasilkan skor yang lebih reliabel jika dibandingkan dengan
penggunaan rentang skor yang lebih besar. Demikian pula, beberapa guru dapat
menggunakan grading holistik dalam mengevaluasi peserta didik. Apabila asesmen
portofolio didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya,
reliabilitasnya akan tinggi. Kedua, peningkatan objektivitas asesmen portofolio
dapat menggunakan beberapa evaluator. Dengan menggunakan beberapa evaluator,
penilaian portofolio dapat membantu memastikan bahwa skor awal yang diberikan
oleh evaluator akan menggambarkan kompetensi pekerjaan peserta didik. Ketiga,
untuk menguji reliabilitas kor adalah menilai kembali portofolio selama periode
waktu tertentu, mungkin satu bulan, kemudian membandingkannya dengan skor
portofolio yang diberikan awal penskoran, untuk menegtahui konsistensi
penskoran.
Masalah lain adalah pengembangan dan pembuatan rangking pada
tugas-tugas portofolio. Untuk memcahkan masalah itu, tugas-tugas portofolio
dapat didiskusikan oleh beberapa pendidik yang memiliki latar belakang
kebudayaan berbeda. Pendidik tersebut dapat melacak kembali cara-cara peserta
didik yang memiliki berbagai latar belakang kebudayaan melaksanakan suatu
pekerjaan dan mengakses kembali untuk mengetahui konsistensi penskoran.
Dibandingkan dengan tes formal (tes tertulis dan sejenisnya)
asesmen portofolio memiliki berbagai keuntungan, diantaranya :
a.
Dengan menunjukkan apa yang dikerjakan peserta didik pada
suatu portofolio, mereka dapat mendemonstrasikan keterampilan dan kompetensinya
kepada pendidik, sekolah, dan orang tuanya. Portofolio ini memberikan informasi
yang sangat penting di dalam menilai mutu pendidikan dan mutu prestasi peserta
didik.
b.
Karena terfokus pada hasil pembelajaran, portofolio dapat
diintegrasikan dengan kegiatan pembelajaran.
c.
Sasaran asesmen portofolio adalah kemampuan peserta didik
dalam berpikir kompleks, pemahaman mendalam dan penerapan pengetahuan. Bukan
sebaliknya pengetahuan dan keterampilan terbatas, seperti mengingat fakta
ataupun konsep.
d.
Karena portofolio menawarkan berbagai cara kepada peserta
didik untuk mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka dapat
kerjakan, maka peserta didik terdorong menjadi pembelajar reflektif yang
bertanggung jaawab atas pertumbuhan dan perkembangannya sendiri.
e.
Portofolio memberikan kesempatan kepada pendidik untuk
memahami apa yang dipelajari oleh peserta didiknya, sehingga para pendidik
dapat merancang pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi belajar peserta
didik.
Walaupun para pendidik dalam menggunakan asesmen portofolio
itu memerlukan banyak waktu dalam mengembangkan, mengimplementasikan, dan
menskor portofolio, namun penggunaannya memiliki konsekuensi positif terhadap
belajar dan pembelajaran. Demikian pula asesmen ini dapat meningkatkan
keterampilan, prestasi, dan motivasi peserta didik untuk belajar.
Dalam menerapkan asesmen portofolio,
ada beberapa tahap yang harus dilalui yaitu:
a.
Perencanaan dan pengorganisasian
1)
Kembangkan perencanaan portofolio yang bersifat fleksibel.
Apakah tujuan yang akan dicapai melalui portofolio itu ? aspek-aspek apa saja
yang diperlukan ? kapan dan bagaimana aspek-aspek itu ditetapkan ? kriteria
apakah yang akan diterapkan untuk refleksi dan evaluasi ?
2)
Rencanakan waktu secukupnya agar peserta didik mempersiapkan
dan mendiskusikan aspek-aspek portofolio. Asesmen portofolio memerlukan banyak
waktu dan pemikiran dibandingkan dengan koreksi ujian tertulis.
3)
Mulai dengan satu aspek belajar dan hasil belajar peserta
didik, kemudian semakin meningkat sejalan dengan apa yang dipelajari peserta
didik. Proses menulis karangan, misalnya adalah sangat cocok untuk
didokumentasikan melalui portofolio.
4)
Pilih aspek-aspek yang dimaksudkan di dalam portofolio yang
mampu menunjukkan kemajuan peserta didik atau penugasan tujuan pembelajaran.
5)
Pilih setidak-tidaknya dua aspek, yakni indikator yang
diperlukan atau aspek-aspek inti, dan sampel pekerjaan yang dipilih. Kumpulan
indikator inti atau yang dipersyaratkan itu hendaknya menunjukkan kemajuan
peserta didik. Sampel pekerjaan pilihan menunjukkan kekuatan dan minat individu
peserta didik.
6)
Tempatkan daftar tujuan di depan masing-masing portofolio,
bersamaan dengan daftar indikator yang dipersyaratkan dan tempat mencatat
aspek-aspek pilihan, agar supaya pendidik dan peserta didik mudah mengetahui
isinya.
b.
Implementasi
1)
Lekatkan perkembangan aspek-aspek portofolio di dalam
kegiatan kelas yang sedang berlangsung untuk menghemat waktu, dan pastikan
bahwa aspek-aspek portofolio itu merupakan cerminan dari pekerjaan peserta
didik, dan mampu meningkatkan keautentikan.
2)
Berikan tanggung jawab kepada peserta didik untuk
mempersiapkan, memilih, menilai, dan menyimpan portofolionya sendiri.
3)
Bagi aspek-aspek portofolio yang telah dipilih, refleksi
model dan asesmen diri akan membantu peserta didik menyadari proses yang mereka
lakukan, apa yang mereka pelajari dan telah mereka pelajari, dan apa yang dapat
mereka lakukan pada waktu yang berbeda.
4)
Catat komentar pendidik dan peserta didik dengan segera
terhadap portofolio tersebut, dan lekatkan komentar itu pada aspek-aspek
portofolio. Biarkan peserta didik membuat komentar atas portofolionya sendiri.
5)
Selektif. Portofolio bukan sebagai kumpulan sampel karya
peserta didik yang sembarangan. Portofolio berisi aspek-aspek dari karya
peserta didik terpilih yang mampu meningkatkan belajar peserta didik.
c.
Hasil
1)
Analisis aspek-aspek portofolio untuk memahami pengetahuan
dan keterampilan peserta didik. Melalui analisis ini pendidik akan memahami
kekuatan dan kebutuhan peserta didik, proses berpikir, prakonsepsi, kesalahan
konsepsi, pola-pola kesalahan, dan perbandingan perkembangan.
2)
Gunakan informasi portofolio itu untuk mendokumentasikan
kegiatan belajar peserta didik, untuk disampaikan kepada orang tua, dan
memperbaiki pembelajaran di kelas.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Asesmen merupakan kegiatan sistematik untuk memperoleh
informasi tentang apa yang diketahui, dilakukan, dikerjakan oleh peserta didik.
Asesmen biasanya berkaitan dengan prestasi peserta didik. Dalam pemakaian
paling sempit, asesmen disamakan dengan ujian.
Asesmen memiliki dua tujuan, yaitu tujuan isi dan tujuan
proses. Tujuan asesmen pembelajaran yaitu asesmen formatif dan sumatif, asesmen
objektif dan subjektif, asesmen acuan patokan dan acuan normatif serta asesmen
formal dan informal.
Prinsip-prinsip asesmen yaitu Tujuan utama asesmen adalah
memperbaiki belajar peserta didik, Asesmen bertujuan untuk mendukung belajar
peserta didik, Objektif bagi semua peserta didik, Kolaborasi profesional,
Partisipasi Komite Sekolah dalam Pengembangan Asesmen, Keteraturan dan Kejelasan
Komunikasi mengenai Asesmen, Peninjauan Kembali dan Perbaikan Asesmen.
Asesmen ada dua macan, asesmen autentik (asesmen kinerja)
dan asesmen portfolio. Asesmen autentik memiliki kemampuan untuk mengetahui
minat peserta didik, meningkatkan prestasi belajar, meningkatkan standar
akademik, dan meningkatkan pengembangan kurikulum yang lebih terpadu, sedangkan
asesmen portfolio merupakan hasil evaluasi kerja.
Dalam kegiatan belajar mengajar, asesmen ini dianggap sangat
penting, karena selain dapat mengevaluasi hasil belajar peserta didik, juga
bisa menjadi penambah semangat bagi peserta didik agar mencapai hasil yang
maksimal.
B. Saran
Kita sebagai colon guru hendaknya mengerti dan benar-benar
paham mengenai asesmen, karena asesmen akan sangat bermanfaat saat kita bekerja
nanti. Mengingat masa depan yang akan kita hadapi tentu akan berbeda dengan
masa yang sedang kita jalani sekarang ini, maka dengan mengetahui asesmen ini,
kita bisa mengevaluasi cara kerja kita sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Rifa’i RC, Achmad. dan Catharina Tri
Anni. 2010. Psikologi Pendidikan. Semarang : UNNES Press.
Poerwanti, Endang, dkk. 2008. Asesmen
Pembelajaran . Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
http://secoretmimpi.blogspot.com/2010/01/pengertian-asesmen-hasil-belajar.html Diunduh tanggal 25 November 2016 pukul
14.00 WIB
How to Play Slots at Sands Casino - Shootercasino
BalasHapusAs you may 샌즈카지노 have guessed, this is a slot game, as with all the other games on the rb88 casino's website, it has a big prize pool. It
Sky Casino in Jordan 7-star Discounts - Air Jordan7
BalasHapusShop how to find air jordan 18 retro men blue for SKYCITY's 먹튀 사이트 7 STAR discount 윈윈 사이트 code and promo. Save with our latest SKYCITY promotional codes & free air jordan 18 retro racer blue online site promo for more than 15 countries. 마추자